Minggu, 27 Oktober 2013

Lomba Menulis Esai Seabad S. Sudjojono dan Karyanya (1913-2013) Juara 1: 50jt (DL: 31 Maret 2014)

Standard
Total penghargaan sebesar Rp 100.000.000,-
Nama S. Sudjojono boleh jadi sudah dikenal luas oleh publik seni di Tanah Air. Tapi, seberapa dalam sebenarnya kita memahami sosok, karya maupun pemikirannya?

Pada 25 Maret 1986, ketika Sudjojono wafat, dunia seni rupa Indonesia berkabung dan merasa kehilangan. Kini dalam rentang seabad kelahirannya (1913-2013), kita kembali mengenangnya sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. Julukan terhormat ini dideklarasikan oleh kritikus Trisno Sumardjo melalui esai panjangnya, S. Sudjojono: Bapak Seni Lukis Indonesia Baru (1949). Adalah Trisno Sumardjo pula yang mengatakan, Sudjojono adalah “bunyi nafiri yang mengeluarkan suara baru… Orang yang pertama-tama menyadarkan pembaharuan serta melaksanakannya di dunia kenyataan, baik dengan membuat lukisan-lukisannya, maupun dengan memancarkannya ke dalam masyarakat”. Sastrawan Rivai Apin tak ragu mengukuhkan kepeloporannya: “Di Indonesia yang memulai seni lukis ialah Sudjojono.” Bagi kita, Sudjojono adalah orang pertama yang mendefinisikan istilah “seni” seraya mempopulerkan istilah “seniman”. Dia pula yang menciptakan kata “sanggar” dan “pelukis”.

Di masa Persagi (Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia; 1938-1942), lukisan-lukisannya menentang kehalusan kuas serta kecerlangan warna para pelukis naturalis yang dominan kala itu. Sapuan kasar dan warna-warna kusam adalah representasi penentangan Sudjojono, melahirkan antara lain lukisan Sayang Kami Bukan Anjing (1942). Sampai akhir hayatnya, ratusan karya –dengan beragam tema dan kekhasan teknik melukis- telah lahir dari tangannya, membuat sosoknya menonjol di antara para pelukis maestro Indonesia lainnya.

Memang, Sudjojono sosok –seniman dan pribadi- yang kompleks tentu saja. Dengan khidmat ia mengatakan bahwa dalam seni, “kebenaran” justru tak terpisah dari segi “kebagusan”. Baginya, itulah “pedoman seni lukis baru”. Seorang seniman adalah seorang pencipta dengan “jiwa besar”. Jiwa atau “watak” besar itu dengan sendirinya tampak pada hasil kerja seninya yang melampaui zaman: seni tak lain adalah “jiwa tampak”. Kredo itulah yang kini telah jauh melampaui masa hidup sang pencetusnya sendiri.

Tak syak, ia pun penganjur nasionalisme dalam seni lukis, yakni keniscayaan bagi seniman untuk menjadi “teman bangsanya sendiri”, tapi baginya “sari kesenian harus internasional”. Bagi Sudjojono, itu tak niscaya berarti “politik”, tapi soal rasa-merasa yang perlu dihayati oleh seniman. Sesungguhnya, Sudjojono pula yang memulai tradisi polemik dan kritik dalam seni rupa di Indonesia, dan –dengan nada profetis- selalu merasa tahu “kemana seni lukis Indonesia akan (kami) bawa.” Pendek kata, merenungkan kembali sosok ini adalah menemukan kembali sikap dan aura kesenimanan, narasi kebangsaan, pandangan politik dan tentu saja juga roman kehidupan.

Bersama partner penyelenggara dan penaja, Langgeng Art Foundation (LAF) menyelenggarakan kompetisi esai ini untuk merajut dan melacak kembali pandangan-pandangan Sudjojono. Tak sekadar turut merayakan, tahun keseratus kelahiran sosok ini adalah saat yang tepat sekaligus menantang untuk merenungkan dan menuliskan telaah tentang apa yang sudah diwariskannya kepada kita dan seni rupa, khususnya di Indonesia. Kompetisi ini sekaligus juga dimaksudkan sebagai cara untuk mengisi kelangkaan kajian mengenai kekaryaan seniman-seniman besar di Indonesia sendiri.

SYARAT DAN KETENTUAN
Undangan menulis ini terbuka untuk umum. Boleh diikuti oleh siapa saja, tidak terbatas kalangan seni rupa dan tidak dibatasi usia.
Ditulis dalam bahasa Indonesia, panjang tulisan antara 8.000 - 10.000 kata, diketik 1,5 spasi, menggunakan jenis huruf Times New Roman, 12 point.
Esai yang dikirim merupakan hasil telaah penulis atas salah satu karya S.Sudjojono yang sudah dipilih oleh penyelenggara (lihat daftar pilihan lukisan di bawah).
Esai merupakan hasil pengamatan penulis secara langsung terhadap karya S. Sudjojono.
Esai adalah hasil penelitian dan karya perorangan (bukan kelompok); bukan jiplakan tulisan orang lain.
Esai menunjukkan analisis yang bernas dan mendalam, tidak sekadar kutipan pernyataan.
Diperkenankan menulis dengan menggunakan pendekatan apa saja (estetika, sejarah seni rupa, filsafat, semiotika, sosiologi, politik, dll).
PENGHARGAAN
  1. Penghargaan untuk 1 (satu) esai utama, Rp 50.000.000,-
  2. Penghargaan untuk 2 (dua) esai layak terbit, masing-masing Rp 25.000.000,-
PENILAIAN
Esai-esai yang masuk ke panitia akan diseleksi, dinilai dan ditetapkan sebagai penerima penghargaan melalui tata-cara penjurian yang dibuat oleh tim penilai.
Keputusan para juri dalam kompetisi ini tidak dapat diganggu gugat
TIM PENILAI
Aminudin TH Siregar (Kurator dan Pengajar Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Bandung)
Hendro Wiyanto (Kurator Seni Rupa, Jakarta)
St Sunardi (Pengajar Filsafat, Fakultas Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta)
Lain-lain:
Undangan menulis ini berlaku sejak diumumkan pada awal Oktober 2013 dan akan ditutup pada Senin, 31 Maret 2014.
Esai dikirim melalui email ke: info@langgengfoundation.org, dan versi cetaknya ke Langgeng Art Foundation (LAF), Jalan Suryodiningratan 37, Yogyakarta- 55141.
Cantumkan tulisan “Kompetisi Esai SS 101” di pojok amplop, dan jangan lupa menyertakan riwayat singkat penulis.
Penulis esai perlu menginformasikan karya yang akan diteliti ke penyelenggara dan memastikan jadwal waktu kunjungan ke kolektor atau institusi pemilik karya S.Sudjojono.
Pengumuman para pemenang dan acara malam penghargaan akan diadakan pada Mei 2014 di Yogyakarta.
Daftar judul pilihan karya S. Sudjojono:
  1. Di Balik Kelambu Terbuka (1939) (Koleksi Istana Presiden RI, Bogor)
  2. Cap Go Meh (1940) (Koleksi Galeri Nasional Indonesia, Jakarta)
  3. Kawan-Kawan Revolusi (1947) (Koleksi Istana Presiden RI, Yogyakarta)
  4. Potret Seorang Tetangga (1950) (Koleksi Istana Presiden RI, Yogyakarta)
  5. Maka Lahirlah Angkatan ’66 (1966) (Koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta)
  6. Pertempuran Sultan Agung dan Jan Pieterszoon Coen (1973) (Koleksi Museum Sejarah, Jakarta)
  7. Me and Three Venuses (1974) (Koleksi Museum OHD, Magelang)
  8. High Level (1975) (Koleksi Galeri Nasional Indonesia, Jakarta)
  9. Rontok (1978) (Koleksi Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta)
  10. Siiip dalam Segala Cuaca (1980) (Koleksi Deddy Kusuma, Jakarta)
Yogyakarta, Oktober 2013
***
Jika ada pertanyaan mengenai info lomba ini, silakan menghubungi:
Sdri. Mala (+62 818 0411 9391)
Sdri. Alief (+62 857 2906 0770)
Langgeng Art Foundation
Jl. Suryodiningratan 37
Yogyakarta 55141 Indonesia
Telp. +62-274-417043
Email. info@langgengfoundation.org
Website. www.langgengfoundation.org

0 komentar:

Poskan Komentar